Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,61 Persen, Pertanian Tetap Jadi Pilar Utama
- account_circle Rivai

Ayopangkep.id, Jakarta — Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data terbaru yang menunjukkan ketahanan ekonomi Indonesia tetap solid. Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, mengungkapkan bahwa pertumbuhan ekonomi pada Kuartal I 2026 mencapai 5,61 persen secara tahunan (year on year), melampaui proyeksi analis yang sebelumnya memperkirakan sekitar 5,3 persen.
Dalam konferensi pers di Gedung BPS, Selasa (5/5/2026), Amalia menjelaskan bahwa capaian tersebut juga mencerminkan percepatan dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang tumbuh 4,87 persen.
Di balik pertumbuhan tersebut, sektor pertanian kembali menunjukkan peran strategisnya sebagai salah satu pilar ekonomi. Dari lima sektor utama penyumbang Produk Domestik Bruto (PDB)—yakni industri pengolahan (19,07%), perdagangan (13,28%), pertanian (12,67%), konstruksi (9,81%), dan pertambangan (8,69%)—pertanian menempati posisi ketiga. Kelima sektor ini secara total menyumbang sekitar 63,52 persen terhadap PDB nasional.
Dari sisi kontribusi terhadap pertumbuhan, sektor pertanian memberikan andil sebesar 0,55 poin persentase, berada di bawah industri pengolahan dan perdagangan. Meski lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 1,11 poin persentase, hal ini dipengaruhi oleh tingginya basis pertumbuhan pada 2025.
Pada tahun lalu, sektor pertanian tumbuh signifikan sebesar 10,52 persen, didorong oleh panen raya serta peningkatan produksi padi dan jagung. Sementara itu, kontribusi sektor ini terhadap struktur PDB relatif stabil, hanya naik tipis dari 12,66 persen menjadi 12,67 persen.
Amalia menilai bahwa pertumbuhan ekonomi pada awal tahun ini didorong oleh meningkatnya permintaan domestik, yang memicu aktivitas produksi di berbagai sektor.
Data tersebut mendapat respons positif dari Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman. Ia menegaskan bahwa capaian ini mencerminkan keberhasilan kebijakan yang selama ini dijalankan, sekaligus memperkuat posisi sektor pertanian sebagai fondasi ekonomi nasional.
Menurutnya, pertanian tidak hanya berfungsi sebagai penyangga, tetapi juga menjadi penggerak utama, terutama ketika sektor lain menghadapi tekanan. Ia juga menyoroti bahwa penguatan sektor ini merupakan hasil dari kebijakan yang terintegrasi, mulai dari peningkatan produksi, dorongan ekspor, hingga pengendalian impor.
Lebih lanjut, ia menyebutkan bahwa keberhasilan tersebut tidak terlepas dari upaya berkelanjutan di lapangan, termasuk menjaga produksi, melindungi petani, dan memastikan ketersediaan pangan.
Sepanjang 2025, PDB sektor pertanian tercatat tumbuh 5,74 persen—tertinggi dalam 25 tahun terakhir—yang kemudian menjadi landasan kuat bagi kinerja awal 2026. Stabilitas kontribusi sektor ini dalam struktur PDB menunjukkan bahwa momentum pertumbuhan masih terjaga.
Pemerintah pun terus memperkuat sektor pangan melalui berbagai langkah seperti deregulasi, modernisasi, serta kebijakan harga yang berpihak pada petani. Upaya ini diarahkan untuk menjadikan pertanian sebagai penopang stabilitas ekonomi sekaligus fondasi menuju swasembada pangan yang berkelanjutan.
- Penulis: Rivai
- Editor: Syam Rivai

Saat ini belum ada komentar