Pangkep Jadi Pilot Project Nasional Pengembangan Ekosistem Rumput Laut Berbasis Inovasi
- account_circle Rivai

Ayopangkep.id, PANGKEP — Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep) dipilih menjadi lokasi percontohan (pilot project) nasional untuk pengembangan ekosistem rumput laut berbasis inovasi.
Langkah strategis ini diawali dengan gelaran Focus Group Discussion (FGD) yang berlangsung di Lantai 3 Kantor Daerah Pangkep, Rabu (6/5/2026).
Direktur Pembangunan Indonesia Timur, Bappenas RI, Ika Retna Wulandary, menjelaskan bahwa pemilihan Pangkep sebagai salah satu wilayab pilot project didasarkan pada mandat Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029
“Di mana komptensi dari Pangkep adalah rumput laut. Sejalan dengan itu, secara prioritas nasional, rumput laut salah satu yang diprioritaskan”, katanya.
Menurutnya, FGD ini bertujuan membangun ekositem rumput laut. FGD ini berperan menghubungkan pihak terkait yang erat kaitannya dengan pembangunan rumput laut di Pangkep.
Proyek ini nantinya menghasilkan peta jalan memastikan pembangunan ekosistem rumput laut di Pangkep berjalan lancar. Melalui peta jalan ini, diharapkan tantangan nyata yang dihadapi para petani di lapangan dapat teridentifikasi secara detail.
“Harapannya kita kedepan dapat mengatasi permasalahan yang ada dengan caranya mengkonekkan antar stakeholder yang ada, seperti yang kuta lihat tadi ada kelompok masyarakat, ada dari bank, pelaku industri. Jadi prinsip kita kedepan bekerjasama dalam berbagi peran dalam percepatan pembangunan berbasiskan pengembangan rumput laut,” ujarnya.
Kepala Bapperida Pangkep, Amril, menjelaskan bahwa target utama tahun ini adalah merampungkan dokumen peta jalan sebagai panduan bagi seluruh pemangku kepentingan.
Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa ada dua lokus di Pangkep dan tim gabungan melakukan peninjauan lapangan di dua titik representatif, yakni Desa Bulu Cindea di Kecamatan Bungoro dan Desa Pitusunggu di Kecamatan Ma’rang.
“Untuk lokus, ada dua titik yang dikunjungi, pertama di desa Bulu Cindea Bungoro, rencana besok mereka akan mengunjungi desa Pitusunggu Ma’rang. Jadi ini mewakili representasi dari desa atau wilayah yang ada kegiatan budidaya rumput lau, bukan menjadi target bahwa nanti impertensi cuma ada di dua desa tapi kita berbicara skala kabupaten pangkep. Tapi untuk melihat memotret seperti apa kondisi di kabupaten Pangkep, dipilih lah dua desa itu,” tambahnya.
Salah satu narasumber pada FGD tersebut, Dr. Chad Renando dari RECOE (Australia), menjelaskan bahwa kolaborasi dalam forum ini sangat mempermudah proses pertukaran pengetahuan dan pengalaman, di mana mereka dapat belajar dari masyarakat lokal dan berbagi keberhasilan yang telah diterapkan di Australia, sehingga berbagai pihak dapat saling belajar dari praktik yang telah berjalan.
“It’s really helping make the process easier in order to engage and to be able to share knowledge, share experience on both sides as we learn from local communities and we’re able to share knowledge around what works in Australia,” katanya.
Ia mengatakan pentingnya FGD ini untuk mendengar langsung kondisi nyata dari masyarakat di lapangan melalui berbagai perspektif, mulai dari pemerintah, petani, hingga peneliti. Hal ini dilakukan agar inovasi yang dibawa benar-benar memberikan nilai tambah.
“first, it’s really important to hear from people on the ground what it’s really like and we need to be invited in and to hear from locals, from all perspectives, from government, from farmers, from researchers on what’s currently happening. Because if we’re going to do something, we want to make sure that it adds value, doesn’t replicate or copy something that’s already being done but still is able to make a difference with something new,” tambahnya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa sektor rumput laut adalah prioritas nasional yang sangat penting bagi ekonomi lokal karena membuka peluang pertumbuhan melalui peningkatan efisiensi dan produksi. Karena itu, peran innovation hub untuk mengidentifikasi area yang paling potensial untuk dikembangkan.
“So it’s absolutely a national priority and it’s very important to the local economy. And it has opportunities for growth, to be more efficient and to have increased production. And so part of the role of the hub is to find out where that might benefit the most in order to build on what other people are doing,” lanjutnya.
Ia berharap masyarakat dapat memanfaatkan potensi rumput laut untuk mencapai kemakmuran dan kualitas hidup yang lebih baik, tidak hanya bagi individu tetapi juga bagi keluarga dan komunitas mereka.
“They could leverage seaweed for greater prosperity and for greater livability. Not just for them, for their family and for their wider communities, and to be able to leverage seaweed along with the other industries in the community for better prosperity for their families,” pungkasnya. (Mcpangkep/FAI)
- Penulis: Rivai
- Editor: Syam Rivai

Saat ini belum ada komentar