Bio-Repelen Lokal untuk Mitigasi Malaria, ITB Perkuat Pemberdayaan Masyarakat di Pangkajene dan Kepulauan
- account_circle Rivai

Program Pengabdian Masyarakat Skema Bottom-Up Tahun 2026 dari Direktorat Pengabdian Masyarakat dan Layanan Kepakaran ITB, dengan mengangkat topik “Penguatan Mitigasi Malaria Berbasis Komunitas melalui Eksplorasi Bio-Repelen Lokal dengan Optimasi Teknologi Ekstraksi Sederhana.”(Dok.ITB).
Ayopangkep.id, Pangkep – Institut Teknologi Bandung (ITB) mendorong penguatan mitigasi malaria berbasis komunitas melalui pemanfaatan bio-repelen dari bahan alam lokal. Upaya tersebut dilakukan melalui Program Pengabdian Masyarakat Skema Bottom-Up Tahun 2026 dari Direktorat Pengabdian Masyarakat dan Layanan Kepakaran ITB, dengan mengangkat topik “Penguatan Mitigasi Malaria Berbasis Komunitas melalui Eksplorasi Bio-Repelen Lokal dengan Optimasi Teknologi Ekstraksi Sederhana.”
Kegiatan dilaksanakan di Aula Puekesmas Liukang Tupabbiring, Kelurahan Mattiro Sompe, pulau Balang Lompo, Sabtu 19 September 2026 dan melibatkan masyarakat, kader kesehatan, pengelola program malaria puskesmas, serta Dinas Kesehatan Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan.
Salah satu fokus kegiatan adalah eksplorasi daun sereh sebagai bahan utama bio-repelen lokal. Melalui teknologi ekstraksi sederhana, masyarakat diperkenalkan pada pemanfaatan potensi bahan alam yang tersedia di lingkungan sekitar sebagai salah satu pendekatan pendukung dalam mitigasi malaria.
Ketua Pelaksana Kegiatan Annisa Rahma, mengatakan upaya pencegahan malaria tetap perlu dilakukan meskipun suatu wilayah telah mencapai kondisi eliminasi malaria.
“Meskipun suatu wilayah sudah mencapai tahap eliminasi malaria, kewaspadaan tetap perlu dijaga, terutama ketika masyarakat berkunjung ke daerah endemis atau ketika terdapat pendatang dari wilayah yang masih memiliki kasus malaria. Kami berharap upaya pencegahan dapat terus diperkuat, salah satunya melalui pemanfaatan bio-repelen berbahan alam lokal dan penerapan pola hidup sehat, sehingga malaria benar-benar dapat kita cegah bersama,” ujar Annisa Rahma.
Selain memperkenalkan pemanfaatan bio-repelen, kegiatan juga memberikan edukasi mengenai strategi mitigasi malaria serta penggunaan bio-repelen secara aman dan efektif. Kader kesehatan menjadi salah satu unsur penting karena diharapkan dapat meneruskan pengetahuan yang diperoleh kepada masyarakat di lingkungan masing-masing.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan Hj. Herlina mengapresiasi keterlibatan tim dosen ITB yang turun langsung ke masyarakat dan berharap inovasi tersebut dapat memiliki manfaat yang lebih luas.

Program Pengabdian Masyarakat Skema Bottom-Up Tahun 2026 dari Direktorat Pengabdian Masyarakat dan Layanan Kepakaran ITB, dengan mengangkat topik “Penguatan Mitigasi Malaria Berbasis Komunitas melalui Eksplorasi Bio-Repelen Lokal dengan Optimasi Teknologi Ekstraksi Sederhana.”(Dok.ITB).
“Kader merupakan garda terdepan yang bersentuhan langsung dengan masyarakat, sehingga penguatan pengetahuan dan keterampilan mereka sangat penting dalam upaya pencegahan penyakit berbasis vektor. Persoalan yang kita hadapi bukan hanya malaria, tetapi juga demam berdarah dengue (DBD) dan kasus filariasis. Karena itu, kami berharap pemanfaatan bio-repelen ini dapat dikembangkan sebagai salah satu upaya pencegahan yang memberi manfaat lebih luas bagi masyarakat. Kami juga sangat mengapresiasi tim pengabdian masyarakat ITB yang bersedia hadir dan turun langsung ke wilayah kepulauan, karena tidak banyak kegiatan yang dapat menjangkau masyarakat di pulau seperti ini,” ujar Herlina.
Muh. Nasir, Lurah Mattiro Sompe mengatkan kegiatan ini memberikan pengetahuan dan keterampilan praktis kepada masyarakat memiliki potensi untuk diterapkan secara berkelanjutan.
“Kami sangat mendukung kegiatan ini karena memberikan pengetahuan dan keterampilan yang dapat langsung dimanfaatkan oleh masyarakat. Harapannya, pemanfaatan bio-repelen ini dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari sehingga turut meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Ke depan, bukan tidak mungkin ada masyarakat yang melihat potensi bio-repelen ini untuk dikembangkan menjadi produk yang memiliki nilai ekonomis,” kata Nasir.
Sebanyak 40 kader dan warga masyarakat Kelurahan Mattiro Sompe Liukang Tupabbiring mengikuti kegiatan ini. Mereka didampingi oleh staf Kelurahan Mattiro Sompe Liukang Tupabbiring, lima perwakilan penanggung jawab program pencegahan malaria dari puskesmas dengan riwayat kasus malaria tertinggi di Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan, serta dua perwakilan Dinas Kesehatan Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan yang membidangi pencegahan dan penanganan penyakit menular.

Program Pengabdian Masyarakat Skema Bottom-Up Tahun 2026 dari Direktorat Pengabdian Masyarakat dan Layanan Kepakaran ITB, dengan mengangkat topik “Penguatan Mitigasi Malaria Berbasis Komunitas melalui Eksplorasi Bio-Repelen Lokal dengan Optimasi Teknologi Ekstraksi Sederhana.” (Dok.ITB).
Keterlibatan berbagai unsur tersebut menjadi bagian dari upaya membangun pendekatan mitigasi malaria yang lebih dekat dengan masyarakat. Melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, fasilitas kesehatan, kader, dan masyarakat, pengetahuan mengenai pencegahan malaria diharapkan dapat diterapkan secara lebih luas.
Pemanfaatan daun sereh sebagai bahan utama bio-repelen juga membuka peluang untuk mengembangkan potensi bahan alam lokal menjadi inovasi yang tidak hanya mendukung aspek kesehatan, tetapi juga berpotensi memiliki nilai tambah bagi masyarakat.
Kepala Puskesmas Liukang Tupabbiring M.Hidayat AR berharap kegiatan seperti bukan yang pertama dan terakhir tetapi bisa menjadi awal kerjasama dengan ITB untuk meningkatkan kesehatan Masyarakat di Wilayah kerja Puskesmas Liukang Tupabbiring.
Berkontribusi pada Tujuan Pembangunan Berkelanjutan
Program pengabdian masyarakat ini juga sejalan dengan sejumlah Sustainable Development Goals (SDGs). Upaya mitigasi malaria dan peningkatan kesadaran masyarakat mengenai pencegahan penyakit berkontribusi pada SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera, khususnya melalui penguatan upaya pencegahan penyakit menular.
Aspek edukasi dan peningkatan kapasitas kader serta masyarakat mendukung SDG 4: Pendidikan Bermutu, dengan memberikan pengetahuan dan keterampilan yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Sementara itu, eksplorasi bio-repelen berbahan alam lokal dengan teknologi ekstraksi sederhana menjadi bagian dari kontribusi terhadap SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, terutama dalam mendorong inovasi yang berangkat dari potensi lokal.
Pendekatan berbasis komunitas juga memiliki keterkaitan dengan SDG 6: Air Bersih dan Sanitasi Layak, khususnya dalam konteks peningkatan kesadaran masyarakat terhadap lingkungan sehat dan faktor-faktor lingkungan yang dapat mendukung pengendalian penyakit berbasis vektor.
Keterlibatan masyarakat, kader, tenaga kesehatan, pemerintah daerah, dan perguruan tinggi dalam satu kegiatan turut mencerminkan semangat SDG 10: Berkurangnya Kesenjangan, melalui perluasan akses terhadap pengetahuan dan kapasitas kesehatan bagi masyarakat, sekaligus SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui kolaborasi lintas institusi dan pemangku kepentingan.
Dengan demikian, kegiatan ini tidak hanya diarahkan pada pengenalan bio-repelen berbahan daun sereh, tetapi juga menjadi bagian dari upaya membangun kapasitas masyarakat, mendorong inovasi berbasis potensi lokal, serta memperkuat kolaborasi dalam mendukung pembangunan kesehatan yang berkelanjutan.
- Penulis: Rivai
- Editor: Syam Rifai

Saat ini belum ada komentar