Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan, Pacitan merupakan salah satu wilayah yang memiliki potensi tinggi terhadap gempa bumi dan tsunami. Karena itu, peningkatan kapasitas masyarakat menjadi langkah penting untuk meminimalkan risiko bencana.
Menurut Faisal, SLG bertujuan membekali masyarakat dan pemerintah daerah agar mampu memahami potensi bencana, mengenali tanda-tanda bahaya, serta merespons informasi dan peringatan dini resmi dari BMKG secara cepat dan tepat. Program ini juga sejalan dengan inisiatif global Early Warning, Early Action dan Early Warnings for All.
Ia menegaskan bahwa meski gempa bumi dan tsunami belum dapat diprediksi waktu kejadiannya, kesiapsiagaan dapat dibangun melalui edukasi dan latihan yang berkelanjutan. Para peserta diharapkan tidak hanya memahami materi yang diberikan, tetapi juga menyebarluaskan pengetahuan tersebut kepada keluarga dan lingkungan sekitar.
Faisal turut mengapresiasi berbagai upaya mitigasi yang telah dilakukan Pemerintah Desa Sidomulyo dan masyarakat. Desa tersebut berhasil meraih predikat Desa Tangguh Bencana Tsunami Tingkat Utama dari BNPB pada 2024. BMKG bahkan menilai Sidomulyo layak diusulkan menjadi Tsunami Ready Community yang diakui UNESCO, sehingga dapat menambah jumlah desa berstatus tersebut di Indonesia.
Selain itu, BMKG memberikan apresiasi kepada Stasiun Geofisika Nganjuk dan Pusat Gempa Regional (PGR) Yogyakarta yang dinilai konsisten membangun sinergi dengan pemerintah daerah, dunia pendidikan, dan berbagai pemangku kepentingan dalam meningkatkan literasi kebencanaan.
Sementara itu, Kepala Stasiun Geofisika Nganjuk Iwan Setiawan menjelaskan, SLG bertujuan meningkatkan pemahaman seluruh pemangku kepentingan terhadap informasi gempa bumi dan peringatan dini tsunami, sekaligus memperkuat koordinasi antara BMKG, BPBD, dan pemerintah daerah dalam penyebarluasan informasi kebencanaan.
Selama pelatihan, peserta memperoleh materi mengenai potensi sumber gempa dan tsunami, sistem informasi gempa bumi BMKG, sistem peringatan dini tsunami, hingga simulasi kesiapsiagaan melalui tabletop exercise. Kegiatan ini diikuti 53 peserta yang berasal dari unsur masyarakat, TNI, Polri, BPBD, Forkopimda, tenaga kesehatan, tenaga pendidik, relawan kebencanaan, serta media.
Anggota Komisi V DPR RI Ali Mufthi turut mengapresiasi penyelenggaraan SLG di Pacitan. Menurutnya, pelatihan ini bukan sekadar meningkatkan kemampuan teknis, tetapi juga membangun komitmen bersama agar masyarakat memiliki pengetahuan dan respons yang tepat saat bencana terjadi.
Melalui penyelenggaraan Sekolah Lapang Gempabumi dan Tsunami 2026, BMKG berharap kapasitas masyarakat dan pemerintah daerah dalam menghadapi ancaman gempa bumi dan tsunami semakin meningkat. Upaya ini diharapkan mampu membangun budaya kesiapsiagaan yang berkelanjutan serta mewujudkan masyarakat yang tangguh menghadapi bencana menuju Indonesia Emas 2045.
Saat ini belum ada komentar